Showing posts with label Solusiukm. Show all posts
Showing posts with label Solusiukm. Show all posts

Saturday, February 1, 2020

Unik, Botol Bekas Dilukis Jadi Penghasil Cuan

DongadinongaFoto: Dok. Dongadinonga

Jakarta -

Keluar dari zona nyaman memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, alasannya tahap selanjutnya harus bertarung dengan aktivitas yang belum tentu menunjukkan hasil.

Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Saryono yang sukses menyulap hobinya menjadi pundi-pundi penghasilan setiap bulannya.

Pria 38 tahun ini awalnya bekerja sebagai pemandu wisata atau tour guide salah satu travel biro di Yogyakarta. Selama bekerja, Saryono bisa menangkap peluang perjuangan yang bisa menambah penghasilan.

Dia menyalurkan hobi melukis untuk mengisi kekosongan waktu di kala bekerja.

"Berawal dari botol bekas yang saya dapatkan dari kantor daerah saya bekerja, saya mencoba mengkombinasikan dengan talenta saya maka dapatlah lukisan di atas media botol bekas," kata Saryono kepada detikcom menyerupai ditulis, Sabtu (1/2/2020).

Hasil lukisan tersebut dijualnya pun kepada para turis yang kebetulan dipandu oleh dirinya. Produknya ini diberi nama Dongadinonga.

"Pertama kali menjual secara offline dari sahabat ke teman, ke tamu-tamu saya dari kantor saya sebelumnya, berlanjut dari verbal ke mulut," ujar dia.

Saryono mengaku, modal perjuangan yang dijalaninya ini menghabiskan Rp 3-Rp 4 juta. Modal itu dipakai untuk membeli perlengkapan produksi.

Seiring berjalan hasil karyanya pun banyak digemari oleh para turis atau tamu yang sedang dipandunya, Saryono pun berbagi lukisannya pada aneka macam media.

Produk Dongadinonga ketika ini berupa lukisan botol, hiasan dinding dari limbah kayu kombinasi tutup bejana cat, jam dinding dari tutup bejana cat kombinasi tutup botol plastik kemasan mineral, typography diatas media limbah kayu. Seluruh produk ini mulai dipasarkan pada 2015.

Penjualan produknya pun ketika ini sudah menunjukkan hasil yang cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

"Rata-rata penghasilan sebulan sebesar Rp 2-Rp 3 juta," ujarnya.

Saryono mengungkapkan, bagi masyarakat yang ingin membeli prosuk Dongadinonga cukup mampir ke akun Instagram @dongadinonga, ke market place menyerupai blibli.com, tokopedia.com, atau bosa pribadi Whatssapp di 082134904739, serta email di dongadinongaartcraft@gmail.com.

Waktu pemesanan pun sekitar tiga hari atau lebih dengan menyesuaikan pada lokasi pembeli. Untuk duduk masalah produksi, Saryono dalam satu hari bisa menciptakan empat produk.



Simak Video "Masih Pandemi, Ayu Ting Ting Tunda Buka Kafe di Pondok Gede"
[Gambas:Video 20detik]
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com

Sumber detik.com

Dapat Cuan Sulap Ampas Kopi Jadi Lulur Sampai Sabun, Ini Caranya

Lulusan Sekolah Menengan Atas Ini Sulap Ampas Kopi Makara Lulur sampai SabunFoto: Dok. Pribadi

Jakarta -

Jika biasanya limbah atau ampas kopi dibuang, kreativitas tiba dari lulusan Sekolah Menengan Atas berjulukan Sabrina Leoktafia. Wanita asal Yogyakarta ini manfaatkan ampas kopi jadi sesuatu yang menghasilkan uang.

Ide ini muncul dari keresahannya alasannya ialah banyak limbah kopi yang berasal dari coffee shop di tempat asalnya. Dari situ ia melihat peluang untuk menyebabkan ampas kopi sebagai lulur kecantikan dan gabungan sabun mandi.

"Saya buat perjuangan ini alasannya ialah berbagai coffee shop di Yogyakarta, jadi limbah kopi banyak terbuang. Dari situ wangsit muncul untuk limbah kopi dibentuk scrub (lulur) dan gabungan sabun mandi," kata Sabrina ketika dihubungi detikcom, Jumat (31/1/2020).

Sabrina bercerita, setiap malam berkeliling ke sejumlah coffee shop yang ada di Yogyakarta untuk mengumpulkan ampas kopi. Hal itu ia lakukan setiap hari mulai jam 00.00-01.00 WIB menjelang coffee shop tutup.

"Banyak saya cari muter-muter (ampas kopi) kawasan Jakal (Jalan Kaliurang, Yogyakarta) yang banyak coffee shop. Saya minta sama barista yang jaga alasannya ialah biasanya cuma dibuang. Biasanya saya cari jam 00.00-01.00 WIB," ucapnya.

Lulusan Sekolah Menengan Atas Ini Sulap Ampas Kopi Makara Lulur sampai SabunFoto: Dok. Pribadi

Kepiawaiannya mengubah 'sampah' kopi menjadi sesuatu yang bermanfaat didapatkannya dari sejumlah referensi, mulai dari buku sampai internet.

"Belajar cari rujukan dari buku, beberapa website juga ada. (Dari) YouTube jarang malah," katanya.

Bisnis perempuan berusia 23 tahun ini sanggup dikatakan gres 'kemarin sore'. Namun siapa sangka, bisnis yang seumur jagung ini menghasilkan omzet jutaan rupiah.

"Belum banyak (penghasilan) masih kisaran Rp 3-4 juta/bulan alasannya ialah gres satu tahunan," bebernya.

Produknya dijual dengan satu harga yaitu Rp 35.000/botol dengan ukuran 200 ml, baik untuk lulur kopi maupun sabun kopi. Produk dengan materi ampas kopi itu dinilai mempunyai sejumlah manfaat untuk kecantikan dan kesehatan.

"(Manfaatnya) untuk mengangkat sel-sel kulit mati, meredakan peradangan kulit, mengurangi racun di badan alasannya ialah kaya akan antioksidan," jelasnya.

Lulusan Sekolah Menengan Atas Ini Sulap Ampas Kopi Makara Lulur sampai SabunFoto: Dok. Pribadi

Produk Sabrina sanggup dipesan melalui Instagram @coffeeforbody. Sabrina bilang, produknya dari ampas kopi itu paling jauh dipesan dari Kalimantan.

"Kebanyakan sih customer yang suka kopi (yang pesan). Paling jauh ke Kalimantan. Kebanyakan sih Jakarta," tuturnya.

Dapat Cuan 'Sulap' Ampas Kopi Makara Lulur sampai Sabun, Ini Caranya


Simak Video "Habis Ngopi? Pakai Ampasnya Buat Lukisan Aja!"
[Gambas:Video 20detik]
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com

Sumber detik.com

Dapat Cuan Sulap Ampas Kopi Jadi Lulur Sampai Sabun, Ini Caranya

Lulusan Sekolah Menengan Atas Ini Sulap Ampas Kopi Makara Lulur sampai SabunFoto: Dok. Pribadi

Jakarta -

Jika biasanya limbah atau ampas kopi dibuang, kreativitas tiba dari lulusan Sekolah Menengan Atas berjulukan Sabrina Leoktafia. Wanita asal Yogyakarta ini manfaatkan ampas kopi jadi sesuatu yang menghasilkan uang.

Ide ini muncul dari keresahannya alasannya ialah banyak limbah kopi yang berasal dari coffee shop di tempat asalnya. Dari situ ia melihat peluang untuk menyebabkan ampas kopi sebagai lulur kecantikan dan gabungan sabun mandi.

"Saya buat perjuangan ini alasannya ialah berbagai coffee shop di Yogyakarta, jadi limbah kopi banyak terbuang. Dari situ wangsit muncul untuk limbah kopi dibentuk scrub (lulur) dan gabungan sabun mandi," kata Sabrina ketika dihubungi detikcom, Jumat (31/1/2020).

Sabrina bercerita, setiap malam berkeliling ke sejumlah coffee shop yang ada di Yogyakarta untuk mengumpulkan ampas kopi. Hal itu ia lakukan setiap hari mulai jam 00.00-01.00 WIB menjelang coffee shop tutup.

"Banyak saya cari muter-muter (ampas kopi) kawasan Jakal (Jalan Kaliurang, Yogyakarta) yang banyak coffee shop. Saya minta sama barista yang jaga alasannya ialah biasanya cuma dibuang. Biasanya saya cari jam 00.00-01.00 WIB," ucapnya.

Lulusan Sekolah Menengan Atas Ini Sulap Ampas Kopi Makara Lulur sampai SabunFoto: Dok. Pribadi

Kepiawaiannya mengubah 'sampah' kopi menjadi sesuatu yang bermanfaat didapatkannya dari sejumlah referensi, mulai dari buku sampai internet.

"Belajar cari rujukan dari buku, beberapa website juga ada. (Dari) YouTube jarang malah," katanya.

Bisnis perempuan berusia 23 tahun ini sanggup dikatakan gres 'kemarin sore'. Namun siapa sangka, bisnis yang seumur jagung ini menghasilkan omzet jutaan rupiah.

"Belum banyak (penghasilan) masih kisaran Rp 3-4 juta/bulan alasannya ialah gres satu tahunan," bebernya.

Produknya dijual dengan satu harga yaitu Rp 35.000/botol dengan ukuran 200 ml, baik untuk lulur kopi maupun sabun kopi. Produk dengan materi ampas kopi itu dinilai mempunyai sejumlah manfaat untuk kecantikan dan kesehatan.

"(Manfaatnya) untuk mengangkat sel-sel kulit mati, meredakan peradangan kulit, mengurangi racun di badan alasannya ialah kaya akan antioksidan," jelasnya.

Lulusan Sekolah Menengan Atas Ini Sulap Ampas Kopi Makara Lulur sampai SabunFoto: Dok. Pribadi

Produk Sabrina sanggup dipesan melalui Instagram @coffeeforbody. Sabrina bilang, produknya dari ampas kopi itu paling jauh dipesan dari Kalimantan.

"Kebanyakan sih customer yang suka kopi (yang pesan). Paling jauh ke Kalimantan. Kebanyakan sih Jakarta," tuturnya.

Dapat Cuan 'Sulap' Ampas Kopi Makara Lulur sampai Sabun, Ini Caranya


Simak Video "Habis Ngopi? Pakai Ampasnya Buat Lukisan Aja!"
[Gambas:Video 20detik]
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com

Sumber detik.com

Friday, January 31, 2020

Modal Rp 200 Ribu, Laki-Laki Ini Cuan Puluhan Juta Jual Soes Kering

Soes Kering BreakdayFoto: Dok: Breakday

Jakarta -

Pernah gulung tikar menjalani perjuangan tak lantas menciptakan seorang Ikhtiary Gilang, warga Bekasi putus asa. Justru, dari kegagalan itu Gilang kini bisa menjalankan bisnis dengan omzet di atas Rp 20 juta sebulan dengan menjual cemilan soes kering bermerek Breakday.

Gilang bercerita, di penghujung 2014 kemudian menjalani bisnis perjuangan bakso. Kala itu, ia mempunyai lima gerobak yang dijalankan oleh pegawainya. Tak main-main, modal yang ia keluarkan untuk menjalankan ketika itu hingga Rp 60 juta yang berasal dari modal patungan rekannya. Namun, bisnis itu hanya berjalan tiga bulan.

"Saya perjuangan bakso dengan modal kurang lebih Rp 60 juta hingga Rp 70 juta, dan itu nggak hingga 3 bulan collapse semuanya," katanya kepada detikcom, Kamis kemudian (30/1/2020).

Hingga akhirnya, hanya tersisa uang Rp 100 ribu di genggaman Gilang. Tapi, Gilang memang sedari kecil ingin berdikari dan ingin hidup dari berbisnis. Ia tetap berniat bisnis walaupun sudah gagal.

Di ketika bersamaan, Gilang yang juga mempunyai rekan dalam kondisi sulit alasannya yaitu diberhentikan oleh kantornya. Teman Gilang, yang juga penyandang modal perjuangan bakso juga punya uang Rp 100 ribu.

"Akhirnya ya udah gue (saya) punya Rp 100 ribu, ia punya Rp 100 ribu, perjuangan apa ya," katanya.

Produk Soes BreakdayProduk Soes Breakday Foto: Dok: Breakday

Dari modal Rp 200 ribu itu, ia pun cari barang untuk diputar menjadi uang. Kebetulan, ketika itu jajanan soes kering booming di kantor salah seorang temannya. Ia pun mencari penjual soes kering itu dan ia jual lagi dengan merk miliknya.

"Awalnya jualan dari toples, kita beli kiloan masukin toples dijualin kantor bapak, ibu, ternyata lama-lama peminatnya banyak," terangnya.

"Sebulan usaha, aku coba cari bosnya yang punya pabrik, dan aku ajak kolaborasi dia, kebetulan ia mau ketemu sama saya, hasilnya aku dikasih jalan, ya udah kami pakai merk kami sendiri," paparnya.

Bisnis Gilang pun terus berkembang hingga sekarang. Ia kini menggandeng produsen soes kering lain untuk menjalankan Breakday.

Bisnis yang mulanya hanya bisa menjual kurang dari 100 item per bulannya, kini melesat lebih 1.000 item tiap bulan.

Pemasaran yang mulanya melalui online di Instagram @breakdaysnack, kini merambah ke offline di sentra oleh-oleh. Bahkan, ia menerima kesempatan dari pemerintah untuk study banding ke China dan mengekspor pertama kalinya di negara Tirai Bambu tersebut.

Jajanan yang dijual dengan harga Rp 17 ribu hingga Rp 24 ribu ini bisa menghasilkan omzet di atas Rp 20 juta.

"(Omzet di atas Rp 20 juta?) Insyaallah," katanya.

Gilang tak ingin sukses sendiri. Dirinya pun juga membuka kemitraan untuk menjadi reseller atau agen. Untuk bermitra dengannya, cukup menghubungi admin di Instagram Breakday.

"Nanti admin akan menjelaskan ada yang reseller, menjadi agen, biasanya gitu," ujarnya.



Simak Video "Piring Kayu Instagramable ini Keruk Ratusan Juta Perbulannya"
[Gambas:Video 20detik]
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com

Sumber detik.com

Serunya Jualan Mainan Jadul Sanggup Mampu Cuan Jutaan Rupiah

Musisi Bali Raup Cuan dari Jual Mainan JadulFoto: Dok. Liang Game

Jakarta -

Kecintaannya terhadap musik tak menghentikan langkah Gede Bagus Perdana Putra (28) untuk terus mencari peluang bisnis. Ia yang hobi bermusik dan juga bermain board game alhasil memutuskan untuk membuka perjuangan jual produk mainan pada awal tahun 2018. Produknya ia beri nama Liang Game yang berarti permainan yang membawa kebahagiaan.

"Kebetulan saya seorang music produser. Makara saya musisi dan juga music produser. Saya bikin Liang Game itu alasannya yakni dulu saat saya tour, menunggu di backstage itu agak bosan. Makara dari situ juga idenya muncul," kata Gede kepada detikcom, Kamis (30/1/2020).

Meski dikelilingi perkembangan teknologi yang pesat, Gede menentukan menciptakan produk permainan ular tangga yang sudah populer semenjak periode 1980-an. Awalnya, ia tak yakin alasannya yakni ia harus bersaing dengan mobile game yang mudah dan menyita perhatian masyarakat, terutama anak muda.

"Saya awalnya agak ragu saat saya menciptakan sesuatu yang malah agak jauh mundur ke belakang. Apakah ada pasarnya?" tutur Gede.

Namun, maraknya kafe-kafe di Bali yang dipadati warga Bali, wisatawan asing, maupun wisatawan lokal jadi peluang untuk Gede. Ia pun memberanikan diri mengeluarkan modal Rp 20 juta untuk menciptakan Liang Game. Kemudian, produknya itu ia tawarkan ke kafe-kafe di Bali. Sehingga, tamu-tamu di bar itu tak hanya menikmati santapannya, tapi juga menghabiskan waktu dengan bermain Liang Game.

"Akhirnya saya bikin satu permainan, kayak board game. Hanya saja bila board game identik dengan permainan yang punya konsep petualangan atau teka-teki. Makara sebagian besar board game menyerupai permainan misi. Tapi saya pengin bikin permainan yang tidak terlalu memutar otak tapi sanggup dimainkan seru, tapi juga ada unsur edukatifnya. Makara ada wawasan yang sanggup didapat. Akhirnya saya modifikasi permainan ular tangga itu," terang Gede.

Musisi Bali Raup Cuan dari Jual Mainan 'Jadul'Foto: Dok. Liang Game

Tak hanya di kafe-kafe, Gede bersama 4 orang timnya juga menjual Liang Game di sunday market atau 'pasar kaget' yang biasa digelar di kawasan wisata. Gede memasarkan produknya dengan tiga edisi yang berbeda, yakni edisi Indonesia, Dunia, dan English Edition. Khusus English Edition ini laris keras sampai berkontribusi pada 65% penjualan Liang Game setiap bulannya.

Seiring berjalannya waktu, Liang Game pun populer sebagai 'oleh-oleh' dari Bali. Menurut Gede, produknya ini tak hanya dibeli warga lokal, tapi juga wisatawan lokal dari luar bali, bahkan wisatawan asing.

"Jadi turis ajaib itu banyak banget beli produk saya untuk buah tangan bawa ke negara mereka. Makara yang edisi Indonesia dan edisi dunianya malah tidak sebanyak yang English Edition. Karena kebanyakan orang ajaib itu suka main board game di sana. Dan mereka saat punya quality time itu handphone mereka diletakkan saja. Makara saya selalu sanggup testimoni bila permainan ini bikin fun banget," ungkap Gede.

Meski masih merintis, berdasarkan Gede usahanya ini sudah menguntungkan, dengan omzet sampai Rp 5-7 juta per bulan. Dengan harga pasaran Liang Game Rp 175.000 per unit, ia menjual sekitar 28-40 unit per bulan.

"Kita masih home production seluruhnya, jadi belum terlalu sanggup tekan harga. Tapi dari quality dan fungsi permainan worth it banget. Makara per bulan omzetnya kita sanggup Rp 5-7 juta. Sejauh ini sudah balik modal," terang dia.

Musisi Bali Raup Cuan dari Jual Mainan 'Jadul'Foto: Dok. Liang Game

Ke depannya, Gede bersama timnya berencana menciptakan aplikasi di ponsel untuk melengkapi komponen Liang Game, yakni kartu pertanyaan dan tantangan yang dipakai dalam permainan ini sehingga pembeli tak repot untuk membawa Liang Game ke mana pun, dan quiz serta challenge yang diberikan pun up to date.

"Jadi kombinasi, pakai handphone, tapi bukan dalam artian kita akan jadi mobile game. Tapi di handphone itu hanya sebagai kartu dan dadunya saja, tapi tetap sanggup main fisiknya," tutup Gede.

Serunya Jualan Mainan 'Jadul' Bisa Dapat Cuan Jutaan Rupiah


Simak Video "Hadiri Perayaan Cap Go Meh, Sandi: Ini Bisa Ciptakan Peluang Usaha"
[Gambas:Video 20detik]
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com

Sumber detik.com

Meraup Puluhan Juta Dari Jualan Teh Premium

Produk Teh SILAFoto: Dok. SILA

Jakarta -

Mendapat penghasilan belasan juta dari jabatan yang tidak mengecewakan tinggi bisa jadi suatu pencapaian yang cukup bagi seorang anak muda. Namun itu tidak berlaku bagi Redha Taufik Ardias.

Pria berusia 29 tahun ini rela meninggalkan jabatannya dan honor yang mencapai belasan juta dari sebuah perusahaan produsen teh pada 2017. Dia justru menentukan untuk menjadi pengusaha minuman teh.

Alasan Redha tetapkan untuk menjadi pengusaha produk minuman teh ini sebab ingin membantu penghasilan pemetik teh yang dibayar sangat kecil. Selama menjabat sebagai Product & Brand Manager di perusahaan teh, dirinya mengetahui bahwa upah untuk pemetik teh sebesar Rp 800-1.200 per kg dengan catatan daun teh masih basah.

"Dari situlah saya mulai tergerak untuk mencari tahu lebih banyak wacana teh di Indonesia, dan berharap bisa berkontribusi terhadap kesejahteraan Ibu-Ibu pemetik teh ini, baik dengan hal kecil sekalipun," kata Redha ketika berbincang dengan detikcom, Jumat (31/1/2020).

Meraup Puluhan Juta Dari Jualan Teh PremiumFoto: Dok. SILA

Redha menilai produk minuman teh mempunyai potensi yang sama menyerupai kopi yang ketika ini tengah menjamur di tanah air. Dia pun ingin membiasakan masyarakat Indonesia untuk mengkonsumsi teh dengan kualitas premium.

Menurut dia, selama ini kebanyakan masyarakat di Indonesia hanya mengonsumsi teh 'sisa'. Teh 'sisa' yang dimaksud yakni sari dari teh yang seharusnya untuk satu gelas namun dicampur lagi dengan air putih dan disajikan untuk beberapa gelas.

Demi tekadnya membiasakan masyarakat meminum teh dengan kualitas premium dan menyejahterakan pemetik teh, dirinya pun membangun PT Sila Agri inovasi. Perusahaan ini fokus pada pengembangan produk teh. Nama produknya yakni SILA yang berasal dari bahasa sansekerta dengan arti prinsip moral dan nilai dasar.

Dengan produk SILA, Redha melibatkan seluruh pelaku produk teh dari hulu tukang kebun hingga konsumen melalui invasi yang telah dilakukan dalam setiap produknya.

"Kami berharap dengan aktif melaksanakan edukasi, perlahan namun niscaya masyarakat Indonesia mulai mengapresiasi teh yang berkualitas dari dalam negeri sendiri dan mengasihi produk lokal," jelasnya.

Meraup Puluhan Juta Dari Jualan Teh PremiumFoto: Dok. SILA

Pria lulusan Universitas Indonesia ini menyebut produk teh SILA ada 20 varian yang sudah dipasarkan dari 40 varian yang sudah diciptakan. Seluruh varian tersebut masuk dalam lima tipe yaitu white tea, green tea, yellow tea, red tea, dan black tea.

Yang membedakan produk SILA, dikatakan Redha yakni sebab ada adonan herbal menyerupai melati, jahe, sereh, lemon, jeruk, mint, kayu manis, dan jenis rempah lainnya. Dia meyakini bahwa minuman teh ini akan booming menyerupai kopi yang ketika ini banyak digemari masayarakat.

Untuk detil produk dari 20 varian yang ketika ini di pasaran yakni Glorious White Tea, Silver Needle, Black Booster, Srikantea, Fresh'O Green Tea, Smangat Pagi, Kasmaran, Guardian Angel, Lemongrass Green Tea, Mojang Geulis, Levare Black Tea, Asian Unitea, Lemongrass Black Tea, Fesh'O Green, White Peony, Prime Green Tea, Guardian Angel, Radiant Yellow Tea, Sinensis Red Tea, dan Blissful Morning.

Ragam varian teh ini dikemas dalam bermacam-macam kemasan, yang utamanya kemasan kaleng tabung dan zip pouch. Adapun harga produknya mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 200 ribuan per kemasan tergantung dari tipe kemasan.

Dia menceritakan tahun pertama menjalankan SILA sangat berat, mulai dari omzet yang hanya Rp 10 juta per bulan sebab hanya bisa menjual produk dari bazar ke bazar saja. Omzet yang didapat masih jauh dari biaya operasional yang dibutuhkan.

Berkat kerja kerasnya, Redha mengaku ketika ini perusahaan sudah tumbuh dan bisa membiayai operasional secara mandiri. Saat ini SILA punya puluhan partner, diantaranya belasan cafe, beberapa hotel, reseller offline dan online. SILA juga aktif di online marketplace dan instagram untuk direct sales dengan ragam variant dan kemasan yang unik.

Bahkan belakangan ini SILA banyak dijadikan souvenir, baik souvenir pribadi, institusi hingga wedding.

"Sekarang sudah bisa menutup operasional, rata-rata omzet sudah Rp 60-Rp 75 juta per bulan," tegasnya.

Dia pun mengungkapkan bagi masyarakat yang tertarik mencoba produk SILA bisa pribadi kontak akun Instagram @silateahouse atau tiba pribadi ke Sila Tea Headquarter di Bogor dan Tea Experience Room by SILA di Armor Badjoeri di Bandung. Bisa juga mengunjungi partner Sila terdekat, secara umum dikuasai di Bandung yaitu Teabumi, Loko Coffee Shop, Gajua Kopi, Dewaji, De'romee, Ubar Salatri, dan Omalia, Lalu di jakarta ada di Sarinah, Kopi Shock dan Taverne, di Sukabumi ada Kedai 35 dan Book.tea Bar, dan di Loko Coffee Shop Cirebon.

"Sebagai tips juga untuk teman-teman yang tertarik di bisnis apapun itu, awali dengan mempunyai visi dan misi yang jelas, serta pastikan usahanya mempunyai efek posistif terhadap sosial dan lingkungan. Bisnis dan Idealis harus seimbang, dan inilah yang saya percaya sebagai cikal bakal sustainability agriculture di Indonesia," ungkap dia.

​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com

Sumber detik.com

Meraup Puluhan Juta Dari Jualan Teh Premium

Produk Teh SILAFoto: Dok. SILA

Jakarta -

Mendapat penghasilan belasan juta dari jabatan yang tidak mengecewakan tinggi bisa jadi suatu pencapaian yang cukup bagi seorang anak muda. Namun itu tidak berlaku bagi Redha Taufik Ardias.

Pria berusia 29 tahun ini rela meninggalkan jabatannya dan honor yang mencapai belasan juta dari sebuah perusahaan produsen teh pada 2017. Dia justru menentukan untuk menjadi pengusaha minuman teh.

Alasan Redha tetapkan untuk menjadi pengusaha produk minuman teh ini sebab ingin membantu penghasilan pemetik teh yang dibayar sangat kecil. Selama menjabat sebagai Product & Brand Manager di perusahaan teh, dirinya mengetahui bahwa upah untuk pemetik teh sebesar Rp 800-1.200 per kg dengan catatan daun teh masih basah.

"Dari situlah saya mulai tergerak untuk mencari tahu lebih banyak wacana teh di Indonesia, dan berharap bisa berkontribusi terhadap kesejahteraan Ibu-Ibu pemetik teh ini, baik dengan hal kecil sekalipun," kata Redha ketika berbincang dengan detikcom, Jumat (31/1/2020).

Meraup Puluhan Juta Dari Jualan Teh PremiumFoto: Dok. SILA

Redha menilai produk minuman teh mempunyai potensi yang sama menyerupai kopi yang ketika ini tengah menjamur di tanah air. Dia pun ingin membiasakan masyarakat Indonesia untuk mengkonsumsi teh dengan kualitas premium.

Menurut dia, selama ini kebanyakan masyarakat di Indonesia hanya mengonsumsi teh 'sisa'. Teh 'sisa' yang dimaksud yakni sari dari teh yang seharusnya untuk satu gelas namun dicampur lagi dengan air putih dan disajikan untuk beberapa gelas.

Demi tekadnya membiasakan masyarakat meminum teh dengan kualitas premium dan menyejahterakan pemetik teh, dirinya pun membangun PT Sila Agri inovasi. Perusahaan ini fokus pada pengembangan produk teh. Nama produknya yakni SILA yang berasal dari bahasa sansekerta dengan arti prinsip moral dan nilai dasar.

Dengan produk SILA, Redha melibatkan seluruh pelaku produk teh dari hulu tukang kebun hingga konsumen melalui invasi yang telah dilakukan dalam setiap produknya.

"Kami berharap dengan aktif melaksanakan edukasi, perlahan namun niscaya masyarakat Indonesia mulai mengapresiasi teh yang berkualitas dari dalam negeri sendiri dan mengasihi produk lokal," jelasnya.

Meraup Puluhan Juta Dari Jualan Teh PremiumFoto: Dok. SILA

Pria lulusan Universitas Indonesia ini menyebut produk teh SILA ada 20 varian yang sudah dipasarkan dari 40 varian yang sudah diciptakan. Seluruh varian tersebut masuk dalam lima tipe yaitu white tea, green tea, yellow tea, red tea, dan black tea.

Yang membedakan produk SILA, dikatakan Redha yakni sebab ada adonan herbal menyerupai melati, jahe, sereh, lemon, jeruk, mint, kayu manis, dan jenis rempah lainnya. Dia meyakini bahwa minuman teh ini akan booming menyerupai kopi yang ketika ini banyak digemari masayarakat.

Untuk detil produk dari 20 varian yang ketika ini di pasaran yakni Glorious White Tea, Silver Needle, Black Booster, Srikantea, Fresh'O Green Tea, Smangat Pagi, Kasmaran, Guardian Angel, Lemongrass Green Tea, Mojang Geulis, Levare Black Tea, Asian Unitea, Lemongrass Black Tea, Fesh'O Green, White Peony, Prime Green Tea, Guardian Angel, Radiant Yellow Tea, Sinensis Red Tea, dan Blissful Morning.

Ragam varian teh ini dikemas dalam bermacam-macam kemasan, yang utamanya kemasan kaleng tabung dan zip pouch. Adapun harga produknya mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 200 ribuan per kemasan tergantung dari tipe kemasan.

Dia menceritakan tahun pertama menjalankan SILA sangat berat, mulai dari omzet yang hanya Rp 10 juta per bulan sebab hanya bisa menjual produk dari bazar ke bazar saja. Omzet yang didapat masih jauh dari biaya operasional yang dibutuhkan.

Berkat kerja kerasnya, Redha mengaku ketika ini perusahaan sudah tumbuh dan bisa membiayai operasional secara mandiri. Saat ini SILA punya puluhan partner, diantaranya belasan cafe, beberapa hotel, reseller offline dan online. SILA juga aktif di online marketplace dan instagram untuk direct sales dengan ragam variant dan kemasan yang unik.

Bahkan belakangan ini SILA banyak dijadikan souvenir, baik souvenir pribadi, institusi hingga wedding.

"Sekarang sudah bisa menutup operasional, rata-rata omzet sudah Rp 60-Rp 75 juta per bulan," tegasnya.

Dia pun mengungkapkan bagi masyarakat yang tertarik mencoba produk SILA bisa pribadi kontak akun Instagram @silateahouse atau tiba pribadi ke Sila Tea Headquarter di Bogor dan Tea Experience Room by SILA di Armor Badjoeri di Bandung. Bisa juga mengunjungi partner Sila terdekat, secara umum dikuasai di Bandung yaitu Teabumi, Loko Coffee Shop, Gajua Kopi, Dewaji, De'romee, Ubar Salatri, dan Omalia, Lalu di jakarta ada di Sarinah, Kopi Shock dan Taverne, di Sukabumi ada Kedai 35 dan Book.tea Bar, dan di Loko Coffee Shop Cirebon.

"Sebagai tips juga untuk teman-teman yang tertarik di bisnis apapun itu, awali dengan mempunyai visi dan misi yang jelas, serta pastikan usahanya mempunyai efek posistif terhadap sosial dan lingkungan. Bisnis dan Idealis harus seimbang, dan inilah yang saya percaya sebagai cikal bakal sustainability agriculture di Indonesia," ungkap dia.

​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com

Sumber detik.com

Tuesday, December 31, 2019

4 Sekawan Ini Raup Omzet Puluhan Juta Jualan Cincin Kayu

Foto: Dok. Holly Chopper

Jakarta - Punya wangsit untuk memulai usaha, maka segera realisasikan, meskipun Anda masih kuliah dan belum berpenghasilan. Seperti empat sekawan asal Bandung, Erlangga, Yessa, Yovan dan Reynaly.

Keempat orang itu tak ragu mendirikan bisnis meski masih duduk di dingklik kuliah yang mereka. Bisnis aksesoris mulai dari cincin dan kalung itu diberi nama Holly Chopper.

Erlangga menjelaskan, awalnya ia dan ketiga temannya itu memang sangat gemar menggunakan aksesoris kalung dan cincin. Kemudian mereka iseng untuk menciptakan aksesoris sendiri.

"Akhirnya terpikirkan untuk menciptakan cincin 3D handmade dan diukir," ungkapnya kepada detikcom ibarat ditulis Selasa (30/12/2019).

Pada 2015, keempat cowok itu mulai mendirikan Holly Chopper. Modal mereka terbatas, masing-masing hanya mengeluarkan uang Rp 500 ribu dari hasil menyisihkan uang saku mereka.

Berbekal modal Rp 2 juta, mereka mulai produksi beberapa model cincin 3D dengan kuantiti yang terbatas. Meski begitu mereka tetap pede menjalankan bisnisnya.

"Kami percaya justru dengan modal yang tidak banyak, kami selalu berpikir untuk efektif dan efisien dalam pengambilan keputusan," tambahnya.

Benar saja, semenjak awal didirikan bisnis Holly Chopper berjalan mulus. Apalagi ketika itu masih sangat jarang produk aksesoris cincin dan kalung yang terbuat dari kayu dan dibentuk 3D.

"Konsep bisnisnya dapat dibilang blue ocean, alasannya ialah kita benar-benar mencari pasar baru," terang Erlangga.

Holly ChopperHolly Chopper Foto: Dok. Holly Chopper


Meskipun ketika awal membangun, mereka harus mengeluarkan upaya keras untuk memperkenalkan produk tersebut. Mereka aktif memperkenalkan produk cincin dan kalung kayu ukir 3D lewat media umum ibarat Instagram ads dan Facebook ads.

Kerja keras mereka pun terbayarkan. Anak-anak muda mulai mengenal produknya. Penjualan Holly Chopper pun mulai dapat menutupi perputaran bisnis.

Kini sudah ada puluhan model cincin dan bandul kalung yang sudah diproduksi oleh Holly Chopper. Detail sampai modal kekinian menciptakan produk Holly Chopper diterima oleh kalangan muda.

Kayu yang dipakai berjenis kayu jati dan sonokeling. Satu hal yang menjadi keunggulan produk Holly Chopper ialah karena terbuat dari kayu yang semakin usang semakin keras.

Harga jualnya pun cukup terjangkau yakni mulai dari Rp 60 ribu sampai Rp 300 ribu, tergantung tingkat kerumitan. Kini per bulannya mereka dapat menjual ratusan pcs.

"Kalau omzet kini dapat belasan atau puluhan juta rupiah sih. Belum terlalu besar mas," ujarnya.

Meski begitu, mereka berempat pun sudah dapat menyebarkan jaringan penjualannya melalui offline. Erlangga dan ketiga temannya telah mendirikan Holly Chopper Galery and Coffee di Buah Batu, Bandung. Selain memamerkan produk Holly Chopper, kawasan itu juga asik untuk sekedar kongkow minum kopi.

Mereka berempat mulai nyaman dengan predikatnya sebagai pengusaha. Meskipun sampai ketika ini beberapa dari mereka masih menempuh pendidikan di akademi tinggi.

Ke depan, kata Erlangga, mereka menargetkan dapat menjual produk-produk Holly Chopper ke luar negeri. Target itu akan direalisasikan di 2019.

"Kedepannya sih pangsa pasar, kami bakal lebih fokus ke luar negeri. Sekarang memang sudah ada beberapa yang pembeli dari luar negeri tapi kitanya belum fokus berjualan di luar negeri," tutupnya.
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com

Sumber detik.com

Bisnis Karangan Bunga Perempuan Manis Ini Rambah Papua Sampai Malaysia

Foto: Kerajinan Karangan Bunga yang Tembus Ekspor ke Malaysia (Istimewa/Dok:Bloomster)

Jakarta - Dianisa Rizkika atau biasa disapa Ninis warga Jakarta Selatan dapat dikatakan gres 'kemarin sore' terjun ke bisnis kerajinan bunga kering. Namun siapa sangka, bisnis yang seumur jagung ini dapat menghasilkan omzet lumayan, jutaan rupiah.

Wanita anggun 25 tahun ini bercerita, membangun bisnis kerajinan bunga kering dengan nama Bloomster sekitar April 2018. Ia mengaku, awal mula terjun ke dunia bisnis sebab punya hobi menciptakan kerajinan, termasuk kerajinan bunga kering.

Awalnya, ia bergelut di bisnis ini dengan menjual karangan bunga kering (bouquet). Bunga-bunga itu ia datangkan dari pemasok untuk kemudian ia rangkai.
Sebagai tahap awal, ia bilang, karangan bunga itu ia jual di program wisuda daerah kuliahnya dulu, Institut Teknologi Bandung (ITB).

"Jadi awalnya, saya memang anak teknik ITB, tapi saya memang hobi crafting. Kebetulan waktu ada wisuda ITB. Saya main ke wisuda ITB April 2018 sekalian mau lihat market di sana, ternyata dari bunga kering ada peluang usaha," katanya kepada detikcom, Jumat kemudian (27/12/2019).

Meyakini punya prospek yang cerah, Ninis pun mengatakan kerajinan tangannya ke teman-teman dekatnya. Perlahan, bisnisnya pun mulai memikat pelanggan.

Namun begitu, upaya Ninis membangun bisnis bukan tanpa tantangan. Sebenarnya, di masa awal ia belum dapat fokus terjun bisnis. Lantaran, Ninis harus membagi pikiran dan tenaganya sebab masih bekerja di sebuah perusahaan.
Inspirasi Bisnis Tembus Ekspor dari Wanita Cantik 25 Tahun IniFoto: Kerajinan Karangan Bunga yang Tembus Ekspor ke Malaysia (Istimewa/Dok:Bloomster)
Ninis mengaku, gres benar-benar fokus di tahun 2019 atau semenjak ia menikah.

"Awal 2019 masih belum fokus banget, sehabis saya resign, terus nikah alhasil saya fokus jualan online," ujarnya.

Perlahan tapi pasti, Ninis pun menyebarkan produk yang ia jual. Tidak hanya bouquet, namun ia juga menciptakan hiasan bunga kering yang dibingkai. Lalu, ia juga melayani hiasan bunga untuk seserahan dan mahar.

Ninis bilang, awal mula membangun perjuangan hanya dapat menjual sekitar 10 item per bulannya. Saat ini, ia dapat menjual hingga 25 item.
Inspirasi Bisnis Tembus Ekspor dari Wanita Cantik 25 Tahun IniFoto: Kerajinan Karangan Bunga yang Tembus Ekspor ke Malaysia (Istimewa/Dok:Bloomster)
Kerajinan bunga kering itu dijual dengan harga beragam, dari Rp 30 ribu hingga Rp 500 ribu untuk bouquet low budget, Rp 350 ribu hingga Rp 1,5 juta untuk bouquet ijab kabul atau prewedding. Serta, untuk bunga kering yang dibingkai (frame) Rp 170 ribu hingga Rp 250 ribu.

"Kalau untuk penghasilan kotor, Rp 4-6 juta ada, omzet," ujarnya.

Produk Ninis sendiri dapat dipesan melalui Instagram @bloomster.id. Ninis bilang, kendati masih baru, produk bunga keringnya sempat dipesan dari Malaysia.

"Malaysia pernah, dari Aceh hingga waktu itu terakhir Jayapura. Pengiriman luar negeri gres Malaysia doang," tutupnya.

Simak Video "Hadiri Perayaan Cap Go Meh, Sandi: Ini Bisa Ciptakan Peluang Usaha"
[Gambas:Video 20detik]
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com

Sumber detik.com

Monday, December 30, 2019

Sering Gagal Berbisnis, Perjaka Ini Kantongi Rp 1 M Jualan Seblak

Foto: Dok Pribadi Seblak Edun

Jakarta - Mau jadi pengusaha sukses beromzet besar memang perlu perjuangan. Jangan harap usaha sanggup terus eksis jikalau gampang menyerah. Selain itu, konsisten dan yakin juga jadi kunci sanggup mendulang kesuksesan.

Setidaknya itu yang dilakukan oleh Happy Yosera, pengusaha masakan khas Bandung, yaitu seblak yang mengadu nasib di Jakarta. Happy panggilan akrabnya, sudah berjualan seblak semenjak 5 tahun lalu.

Pria berdarah Sunda ini bercerita, awalnya ia membuka 2 gerai seblak di daerah Jakarta Timur. Kala itu, masakan yang khas dengan rasanya yang pedas ini belum begitu menjamur menyerupai sekarang. Seblaknya diberi nama Seblak Edun. Edun berarti absurd yang menggambarkan verbal ketika mencicipi kepedasan panganan ini.

Karena belum pede dan cukup modal untuk merekrut karyawan, ia dan istri harus terjun langsung berjualan. Peralatan masak pun ia pakai milik pribadi.

"Modalnya cuma Rp 400 ribu ketika itu. Beli kerupuk, bumbu-bumbu dan lainnya," dongeng Happy kepada detikcom beberapa waktu lalu.


Butuh waktu dua tahun hingga mencapai titik balik kesuksesan Happy. Seiring berjalannya waktu, masyarakat pun gandrung terhadap panganan ini. Usahanya terus berkembang. Dia pun terus mengepakkan sayap bisnisnya dan membuka hingga lebih dari 20 cabang dan mempekerjakan puluhan karyawan.

"Omzet ketika itu sanggup hingga Rp 1 miliar lebih per bulan," ujarnya.

Usahanya ini juga terbantu dengan adanya layanan ojek online. Penjualannya sanggup meningkat tajam alasannya yakni bantuan ojek online.

"Bisa 65% sendiri dari ojek online ini," katanya.

Sering Gagal Berbisnis, Pemuda Ini Kantongi Rp 1 M Jualan SeblakFoto: Dok Pribadi Seblak Edun

Tak ada usaha tanpa ada tantangan dan rintangan. Happy juga mengakui, selama 5 tahun berdagang seblak, usahanya juga mengalami fase naik turun. Ditambah, ketika ini seblak sudah bukan lagi masakan yang eksklusif.

Makanan yang berbahan dasar kerupuk berair ini sanggup banyak ditemui di ibu kota. Beda dengan beberapa tahun belakangan. Apalagi ada layanan pesan masakan lewat ojek online memudahkan mereka yang ingin beli.

Perlahan Happy mulai menutup gerai-gerainya satu per satu. Dia memang tidak menjalankan bisnis dengan sistem waralaba alias franchise. Semua gerai ia kelola dan miliki sendiri.

Persoalan semakin berat ketika ia tak mendapat sumber daya insan (SDM) yang sesuai. Sekarang, gerainya hanya tersisa 13 yang tersebar di Jakarta. Rata-rata omzet yang didapat Rp 1,7 juta-Rp 2 juta per hari. Happy mengaku di weekend sanggup hingga Rp 3 juta per hari.

"Omzet kini rata-rata Rp 500-600 juta per bulan. Karyawan inti ada 17 orang," ujarnya.


Meski begitu, Happy tak patah arang. Dia seakan sudah kebal dengan jatuh bangkit menjalankan bisnis. Berjualan seblak pun yakni bisnisnya yang kesekian puluh kali yang digeluti.

"Ini yang keberapa puluh kali saya mencoba usaha. Saya jualan pulsa, sempat juga jualan pakaian, jual buah-buahan, dicoba. Tapi nggak ada yang jalan," katanya.

Tapi, berbekal keyakinan dan percaya bahwa berdagang itu salah satu bab dari ibadah, usaha seblaknya masih eksis hingga sekarang.

"Intinya ya konsisten, usaha ini kan juga perihal iman. Di sini saya berusaha, tapi kehendak Allah yang paling dominan," tutur Happy.

Simak Video "Beda dengan Bandung, Ini Seblak Khas Batang"
[Gambas:Video 20detik]
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com

Sumber detik.com

Mantan Tukang Las Sukses Bisnis Parfum Rp 70 Juta/Bulan

Foto: Parfum Batik (Herdi Alif Al Hikam/detikFinance)

Jakarta - Angga Pratama, merupakan salah satu dari sekian pengusaha yang sukses di Indonesia. Usaha Angga bergerak dalam industri wewangian, alias parfum. Uniknya, Angga menyatukan bahan-bahan tradisional dalam ramuan parfumnya, beliau menamai produknya dengan sebutan Parfum Batik.

Jiwa perjuangan Angga memang tidak perlu lagi dipertanyakan, selama 12 tahun Angga sudah bejibaku menjadi seorang penjaja parfum. Bahkan, semua dilakukannya dari nol, dari yang cuma jadi reseller produk parfum impor hingga akibatnya punya toko sendiri.

"Saya pernah kerja menjadi buruh pabrik las, sales alat penghisap debu, sopir, dan penjaga toko kaset. Hingga hingga lah pada tahun 2007, saya memberanikan perjuangan kecil-kecilan menjadi reseller parfum impor dan alhamdulillah terus berkembang pesat hingga mempunya toko sendiri," kisah Angga kepada detikcom.

Mantan Tukang Las Sukses Bisnis Parfum Rp 70 Juta/BulanFoto: Parfum Batik (Herdi Alif Al Hikam/detikFinance)

Mencium aneka macam harum parfum selama 12 tahun membuat Angga tersadar bahwa bergotong-royong Indonesia juga punya wewangian khas dan identik. Dari situ lah Angga mulai sadar untuk mencari wewangian otentik dari bahan-bahan tradisional.

Bermodal ilmu penyulingan yang didapatkan Angga dari para pengusaha parfum yang berkerja sama dengannya, beliau mulai mencoba membangun Parfum Batik dengan wewangian kearifan lokal. Kalau menurutnya, Parfum Batik sanggup muncul alasannya yaitu kegelisahannya melihat gempuran parfum impor, padahal Indonesia banyak menghasilkan bahan-bahan untuk wewangian.

"Parfum Batik berdiri 28 November 2017, pendirinya saya sendiri. Sejarah berdirinya Parfum Batik ini berawal alasannya yaitu kekhawatiran kami atas gempuran produk parfum luar. Padahal Indonesia yaitu salah satu negara penghasil gaharu dan nilam terbaik di dunia, gaharu dan nilam ini merupakan materi untuk membuat parfum," ungkap Angga.


Angga bercerita parfum yang dijualnya yaitu hasil produksi sendiri, beliau menyampaikan punya pabrik penyulingan parfum di Malang. Bahan bakunya, berdasarkan Angga didapatkan dari petani-petani lokal.

"Kita produksi sendiri di Batu, Malang dari bahan-bahan masih mentah ke proses penyulingan hingga di-matching menjadi parfum. Kami membeli materi baku dari para petani bunga, nilam, dan gaharu. Makara dengan membeli Parfum Batik kami juga turut membantu para petani" ungkap Angga.

Hingga sekarang Angga sudah berhasil membuat empat varian parfum. Mulai dari Parang Barong khas Yogya, Sogan khas Solo, Mega Mendung khas Cirebon, dan Singa Barong khas Bali.

Harga parfumnya berkisar antara Rp 60-90 ribu per botol ukuran 35 ml. Parfumnya terbagi dua tipe, tipe premium yang sanggup tahan anyir hingga 24 jam, dan tipe deluxe yang maksimal tahan anyir hingga 8 jam.


Saat memulai usahanya Angga bercerita menyiapkan Rp 100 juta untuk modal. Uang itu ia putar untuk membiayai alat suling, bangunan pabrik suling, dan materi baku. Kini beliau menyatakan sanggup menjual hingga seribu botol parfum dengan omzet rata-rata berkisar Rp 60-70 juta per bulan.

Angga menyampaikan sejauh ini beliau menjual parfumnya dengan menitipkannya di banyak toko buah tangan di sekitar tempat Cirebon, Yogyakarta-Jakarta, Bali, Solo, dan Malang. Di samping itu beliau juga membuka aktif ikut pameran-pameran UMKM. Angga juga mempromosikan parfumnya lewat sosial media Instagram @parfumbatik.

Simak Video "Nggak Cuma Diminum, Kopi Juga Bisa Makara Parfum Lho!"
[Gambas:Video 20detik]
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com

Sumber detik.com

Dapat Cuan Dari Bisnis Kurir Asi

Ilustrasi/Foto: iStock

Jakarta - Berawal dari peristiwa alam yang menimpa anaknya ketika bayi, Prandityo Hangrengo sekarang mempunyai bisnis Antar ASI Daily Care (AADC). Meski belum begitu besar, setidaknya ia berhasil mengubah duduk kasus menjadi peluang bisnis.

AADC resmi dijalankannya 2 Maret 2017. Ide ini muncul dari permasalahan yang menimpa anaknya yang gres lahir.

"Berangkat dari permasalahan anak yang didiagnosa dokter ada gangguan pada tongue tie dan lip tie, hingga tidak sanggup menyusu secara direct ke bundanya," kata laki-laki yang dekat disapa Tyo kepada detikcom, Senin (30/12/2019).

Dengan permasalahan itu, Tyo dan istrinya harus mencari pendonor ASI untuk anaknya. Saat itu dirinya mengalami kesulitan untuk mendapatkan layanan antar ASI sebab kesibukannya.


Tyo kala itu berpikir bahwa ada peluang perjuangan dari duduk kasus yang menimpanya. Kebetulan juga ketika itu Tyo sedang menganggur.

"Pada awalnya aku berpikir keras, sambil gendong anak, bagaimana ini caranya aku sanggup memulai perjuangan tersebut yang notabene anak tidak ada yang jaga. Karena kami sudah pisah dari orang tua," terangnya.

Tekad Tyo jadinya bulat. Dia meminta izin mertuanya untuk menitipkan anaknya. Setiap hari ia mengantarkan anaknya ke rumah mertuanya yang berjarak 7 kilometer (km) dari rumahnya.

Setelah mengantarkan anaknya, kemudian ia mendapatkan pesanan untuk jemput dan antar ASI. Setelah selesai, ia menjemput kembali sang anak.

"Awalnya mendapatkan customer teman dari adik saya. Di situ aku mulai mendapatkan feedback yang puas dari customer pertama itu, hujan-hujan hingga malem terus terobos, supaya ASI cepat hingga ke rumah customer," ucapnya.

Rutinitas itu ia jalani terus selama 6 bulan. Tyo memperlihatkan jasanya melalui Instagram. Pelanggannya pun semakin banyak, tidak lagi hanya dari lingkungan kerabat saja.

Tyo menetapkan tarif AADC Rp 4.000 per km, terhitung dari alamat penjemputan ke daerah pengantaran ASI. Tarif itu tidak berubah hingga ketika ini.

Menurutnya tantangan terbesar ketika menjalankan bisnisnya ketika ini ialah SDM atau ia sebut bikers. Akhirnya Tyo menciptakan komunitas yang dinamakan Bikers Pejuang ASI.

"Saya kumpulin kawan-kawan yamg sudah punya anak, sebab mereka akan aware dengan ASI. Saya ajak nge-ride bareng dengan sistem upah per km," terangnya.

Dari tarif Rp 4.000 per km, Tyo hanya mengambil Rp 500 per km. Saat itu terkumpul 7 bikers pejuang ASI yang terdiri dari paman, kakak, dan saudara iparnya. Ia juga masih bolak-balik mengantar ASI.

"Nah, permasalahan gres mulai muncul pada SDM, sebab tidak ada keterikatan kerja. Akhirnya untuk orderan yang masuk, aku harus mohon-mohon, kepada para bikers, mengenai kesediaanya untuk ambil orderan. Hingga aku menetapkan untuk berani dgn sistem honor pada bulan Desember 2018 dengan menarik pak Putut, sahabat, sebagai investor aktif," ujarnya.


Saat membuka sistem gaji, ternyata duduk kasus itu belum terselesaikan. Banyak bikers yang keluar masuk. Sebab untuk mengantar ASI harus mempunyai tanggung jawab dan janji yang besar lengan berkuasa sebab telat sedikit ASI tak sanggup lagi dikonsumsi.

"Hingga Saat ini Antar Asi Daily Care (AADC) hanya mempunyai 5 orang biker's yang betul-betul sudah melewati tahap penyaringan," tuturnya.

Dari semenjak AADC berdiri hingga ketika ini tercatat sudah mempunyai 1.300 pelanggan. Tercatat ketika ini omzet AADC mencapai Rp 11 juta per bulan.

Uang itu pun masih harus dipotong honor bikers dan kebutuhan marketing. Meski belum begitu besar, setidaknya Tyo mempunyai penghasilan dari bisnis yang ia bangkit dengan modal Rp 750 ribu, itu pun dari utang.

"Tapi namanya rezeki sanggup tiba dari mana saja, ada saja yang suka nitip iklanin produknya ke kita. Alhamdulillah," tutupnya.
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com

Sumber detik.com